Friday, February 22, 2013


ABSTRAK
FAMILY SUPPORT  PADA SCHIZOPHRENIA

Saulin Titin Liana
127029007

Schizophrenia bukanlah penyakit jiwa yang tidak dapat disembuhkan.  Peranan keluarga diperlukan untuk schizophrenia.  Keluarga dapat mewujudkan dengan memberi bantuan berupa dukungan emosional, instrumental, materi, nasehat, informasi dan penilaian positif yang sering disebut dengan dukungan keluarga (family support).  Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan hubungan sosial antara schizophrenia dengan keluarga adalah family support.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan dan mendeskripsikan pendekatan family support, dimana peran aktif keluarga dibutuhkan dalam merawat dan menjaga schizophrenia, menerima kenyataan, mengakui, mengerti dan tetap terus mendukung schizophrenia untuk dapat lebih baik lagi.  Serta menguraikan sejauhmana efektifitas family support dalam merawat dan menjaga schizophrenia.  Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian ini adalah dengan pendekatan family support dimana keluarga dapat menjadi teman, keluarga mendukung dengan baik, menerima keyataan, tidak adanya penolakan serta selalu ada untuk schizophrenia. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah nilai dukungan dan kesedian keluarga menerima apa yang sedang dialami oleh schizophrenia serta kondisi kesehatan.

Kata Kunci: Family Support dan Schizophrenia.

I.          PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Schizophrenia bisa terjadi pada siapa saja.  Sering kali pasien schizophrenia digambarkan sebagai individu yang bodoh, aneh dan berbahaya.  Sebagai konsekuensi kepercayaan tersebut, banyak pasien schizophrenia tidak dibawah berobat, mereka tidak dibawa ke dokter melainkan dibawa ke “orang pintar”.
Pengobatan yang begitu modern sekarang ini ternyata memberikan prognosis yang baik pada pasien schizophrenia.  Pemulangan pasien schizophrenia pada keluarga tergantung pada keparahan penyakit dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan (Kaplan dan Sadock, 2010).  Keadaan pasien yang membaik dilanjutkan dengan rawat jalan ironisnya, pemulangan pasien schizophrenia pada keluarga menimbulkan permasalahan yang baru.  Biarpun pasien tidak sempurna sembuh, penanganan dengan metode yang tepat membuat gangguan jiwa ini menjadi controllable dan manageable meskipun dikatakan non-curable Hawari (dalam Ambari, 2010).
“Ya… Waktu pemulangan dari RSJ gak bisa ngapa-ngapain sendiri suka butuh bantuan dari kami keluarganya. Mau makan aja harus dibantu”.

Pasien dengan gangguan schizophrenia tidak mungkin mampu mengatasi masalah kejiwaannya sendiri.  Individu tersebut membutuhkan peran orang lain di sekitarnya, khususnya keluarga.  Keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya.  Keluarga adalah institusi pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku.  Individu menguji coba perilakunya didalam keluarga, dan umpan balik keluarga memengaruhi inividu dalam mengadopsi perilaku tertentu.  Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan di masyarakat.  Ketika mereka merasa memiliki, mereka merasa aman dan yang paling penting memiliki kesempatan yang besar untuk membuat dan memelihara hubungan sosial yang mendukung (Browne, 2005).
Pentingnya perawatan dilingkungan keluarga dapat dipandang dari berbagai segi yaitu: keluarga merupakan satu konteks individu memulai hubungan interpersonal.  Keluarga mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap, dan perilaku klien.  Menurut Spradey (dalam Mauludati, 2010) mengemukakan bahwa keluarga mempunyai fungsi dasar seperti memberi kasih sayang, rasa aman, rasa dimiliki, dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat.
Dukungan keluarga menurut Francis dan Satiadarma (dalam Ambari, 2010) merupakan bantuan atau sokongan yang diterima salah satu anggota keluarga dari anggota keluarga lainnya dalam rangka menjalankan fungsi-fungsi yang terdapat di dalam sebuah keluarga. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka muncul keinginan peneliti untuk membuat penelitain dengan judul “Family Support Pada Schizophrenia”.

B.     Rumusan Masalah
Dalam hal ini peneliti mencoba merumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut, yaitu bagaimana fenomena mengenai family support pada pasien schizophrenia, yaitu: “Mengapa family support itu penting bagi schizophrenia?”

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: untuk “mengetahui seberapa penting family support pada schizophrenia?”

D.    Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan adalah adanya manfaat teoritis dan manfaat praktis yaitu bagi keluarga, masyarakat dan peneliti selanjutnya.


  II.     LANDASAN TEORI
A.    Schizophrenia
Schizophrenia merupakan suatu gambaran sindrom dengan berbagai macam penyebab dan perjalanan yang banyak dan beragam, dimana terjadi keretakan jiwa atau ketidak harmonisan dan ketidaksesuaian antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan serta hilang timbul dengan manisfestasi klinis yang beragam (Kaplan, dan Sadock 2010).
Schizophrenia merupakan salah satu dari berbagai psikopatologi yang mana prevalensi sepanjang hidupnya kurang dari 1 persen dan terjadi pada laki-laki dan perempuan kurang lebih sama banyaknya.  Meskipun kadang berawal pada masa kanak-kanak, gangguan ini biasanya muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa, agak lebih awal pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan.  Usia timbulnya gangguan tampaknya semakin muda dalam beberapa dekade terakhir DiMaggio (dalam Davison, 2006).  Orang-orang yang menderita schizophrenia umumnya mengalami beberapa episode akut simtom-simtom yang tidak terlalu parah, namun tetap sangat menggangu keberfungsian mereka.  Komorbilitas dengan penyalagunaan zat merupakan masalah utama bagi para passien Schizophrenia, terjadi pada sekitar 50 persennya Kosten dan Ziedonis (dalam Davison, 2006).
Pada schizophrenia tidak terdapat gejala yang patognomik khusus.  Dalam PPDGJ III membagi gejala schizophrenia yaitu delusi (waham), halusinasi, disorganized Speech (pembicaraan kacau), disorganized Behavior (tingkah laku kacau), dan gejala-gejalan negatif.

B.     Family Support
Dukungan keluarga (family support) atau adalah tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.  Keluarga juga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggotanya dan anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan pertolongan dengan bantuan jika diperlukan (Friedman (1998).
Menurut Kaplan (dalam Friedman, 1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki 4 jenis family support yaitu, dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental, dan dukungan emosional.
Menurut Friedman (dalam Suparyanto, 2012) membagi lima tugas kesehatan yang harus dilakukan oleh keluarga yaitu, mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat, memberikan perawatan kepada anggota keluarganya yang sakit dan tidak sakit, memodifikasi suasana rumah yang mendukung kesehatan keluarga serta perkembangan kepribadian anggota keluarga, mempertahankan hubungan timbal balik antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukkan kemanfaatan dengan baik fasilitas kesehatan yang ada.

 III.       METODE PENELITIAN
Menurut Bogdan & Taylor (dalam Moleong, 2002) metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.  Pendekatan kualitatif dipandang sesuai untuk mengetahui gambaran family support pada schizophrenia, sehingga hasil yang didapat dari penelitian ini dapat memberikan gambaran dan dinamika yang mendalam tentang family support pada schizophrenia.

Populasi dan Sampel
Dalam penelitian kualitatif tidak ada ketentuan khusus mengenai jumlah sampel. Penelitian kualitatif yang terletak pada kedalaman proses, cenderung dilakukan dengan jumlah sampel yang sedikit (Poerwandari, 2005) dalam penelitian ini peneliti menggunakan satu sampel family support.  Selain itu, penelitian ini akan memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai para responden penelitian dari informan.

Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis teknik pengumpulan data yang sesuai dengan teknik pengumpulan data secara kualitatif, yaitu teknik wawancara dan observasi.

Alat Bantu Pengambilan Data
Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, alat perekam (tape recoder), alat tulis, lembar catatan observasi, dan catatan lapangan.

Prosedur Penelitian
Adapun tahap-tahap dalam prosedur penelitian ini adalah tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian, tahap pencatatan data, teknik dan prosedur pengolahan data.

Metode Analisa Data
Menurut Bongdan dan Biklen (dalam Moleong, 2002) analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensiskannya, mencari dan menentukan pola, menemmukan apa yang diceritakan kepada orang lain.

Kredibilitas Penelitian
Menurut Patton (dalam Sugiyono, 2005), ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan yaitu, triangulasi data, triangulasi penelitian, triangulasi teori dan triangulasi data.  Peneliti menggunakan triangulasi data, dan triangulasi metode.

 IV.       ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis
Pembahasan akan dijabarkan dengan menggunakan aspek-aspek yang terdapat dalam pedoman wawancara.  Wawancara dilakukan di tempat yang telah disepakati oleh responden yaitu di rumah responden.  Wawancara dalam penelitian ini dilakukan selama tiga kali, yaitu pada tanggal 28 Oktober 2012, 15 November 2012, dan 23 Desember 2012, waktu yang dipergunakan dalam wawancara ini ±45 menit setiap kali wawancara.
Dari hasil rangkuman wawancara maka dapat dilihat bahwa responden adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, dua orang kakak perempuan, satu adik perempuan, tiga orang adik laki-laki,  dan responden adalah anak laki-laki yang paling tua di antara kakak-kakak perempuannya.  Ayah dan ibu bekerja, ayah bekerja sebagai tukang mas dan ibu tukang jahit, dan keduanya telah meninggal dunia.
Responden memiliki saudara laki-laki yang mengalami gangguan schizophrenia. Awalnya keluarga ketika mengetahui kondisi salah satu saudaranya mengalami gangguan dan suka berhalusinasi tidak dapat menerima  dengan kondisi seperti itu.  Dikarenakan minimnya informasi yang didapatkan pada waktu itu, dan masih percaya dengan mitos-mitos bahwasannya gangguan seperti itu dikarenakan kemasukan oleh roh jahat, seperti setan, jin. Responden mengatakan bahwasannya saudaranya itu suka berhalusinasi dikarenakan adanya pengaruh dari teman-temannya yang katanya suka mencari harta karun, dan membuat saudaranya itu terpengaruhi oleh kata-kata temannya.
Segala upaya telah dilakakukan responden dengan keluarga dalam mencari informasi dan pengobatan tentang gangguan yang dialami saudaranya, dan adanya penolakan dari keluarga, dikarenakan minimnya informasi pada masa itu. Hal ini dapat dilihat seperti kutipan wawancara di bawah ini:
 “Awalnya si ada, tapi karena dulu itu minimnya informasi kesehatan tentang orang gila jadi merasa takut. Tetapi setelah mengetahui tidak ada rasa penolakan lagi (W2.151112.R1.54)”.
“Dulu tu kan orang gila katanya itu karena kemasukan setan, mau nyerang orang, jahat dan gak terkontrol emosi, jadi ngerasa takut jadi kayak nolak gitu (W2.151112.R1.55)”.

Pengakuan terhadap schizophrenia menurut responden adalah penerimaan atau menerima dengan lapang dada, dan tidak merasa bahwasannya itu adalah hal yang buruk ataupun adanya rasa malu tetapi bangga dengan memiliki saudara yang mengalami gangguan.  Menyanyanginya adalah hal yang terbaik dibandingkan dengan rasa tidak peduli.
“Anak bapak menerima dan ada anak perempuan bapak menyayanginya (W1.281012.R1.30)”.
“Biasalah ada yang menerima dan ada juga yang kurang menyukainya dilingkungan sekitar ini (W1.281012.R1.35)”.

Kebutuhan akan makan dan minum, istirahat, selalu diberikan responden kepada schizophrenia.  Kebutuhan-kebutuhan tersebut selalu dipenuhi baik untuk keluarganya ataupun saudara schizophrenia.  Memberikan materi kepada schizophrenia sebesar lima ribu rupiah.  Karena jika tidak diberi uang oleh responden schizophrenia akan mengganggu untuk meminta uang dan sampai dia diberi uang akan berhenti.  Responden juga mengatakan bahwasannya jika schizophrenia dengan orang lain sangatlah royal jika memiliki uang banyak ataupun memiliki rokok.
“Dia klo sama orang itu royal sama orang-orang disekelilingnya. klo ada uang yang banyak dia suka bagi-bagi sama orang lain. tapi klo uangnya habis dia tu marah-marah sama bapak (tersenyum). Dia beranggapan klo bahwasannya dia itu kaya (W1.281012.R1.36)”.
“Bapak yang memberikannya, setiap hari bapak beri dia uang untuk membeli apa yang dia inginkan (W1.281012.R1.37)”.

Responden juga memiliki emosi yang cukup sabar dalam menghadapi schizophrenia, ketika responden marah dengan schizophrenia tetapi kemarahan tersebut hanya bersifat sementara, karena responden menyadari kemarahan itu tidak akan membuatnya lebih baik dan itu akan melukai hati schizophrenia dan responden tidak menginginkan seperti itu.
“Hampir setiap hari, ngeliat kelakuannya yang buat kita jengkel. Dia suka melakukan hal-hal yang bukan disuruh dia dilakukan kayak petik-petik bunga, mematahi dahan-dahan bunga (W1.281012.R1.42)”.

Pembahasan
Jenis Family Support pada Schizophrenia
Secara teoritis, responden memiliki keempat jenis family support pada schizophrenia, yaitu dukungan informational, penilaian, instrumental, dan emosional.  Dimana responden memiliki perhatian, pengakuan, tidak ada rasa penolakan, kasih sayang, dan membuat suasana yang nyaman untuk schizophrenia serta dukungan berupa materi, pengobatan, dan perawatan kesehatan.
Sikap penerimaan dan perhatian yang dibutuhkan schizophrenia dari responden karena dengan adanya hal semacam itu bisa menghasilkan energi yang positif bagi schizophrenia khususnya bagi keluarga itu sendiri karena siapa lagi yang mau menerima dan merasakan hal itu kalau tidak keluarga, dan responden sangat menyanyangi schizophrenia.

Tugas-tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan
Kebutuhan tempat tinggal (perumahan) sudah diatur oleh responden karena tempat tinggal merupakan hal penting dalam meningkatkan proses pemulihan dan meningkatkan kemandirian terhadap aktifitas sehari-hari.  Pengaturan ruangan tempat tinggal dilakukan oleh responden agar mempermudah komunikasi, kebersamaan, keterikatan antara sesama anggota keluarga seperti yang dikatakan responden bahwasannya responden membuat suasana atau kondisi rumah yang tenang, dan nyaman untuk ditinggali bersama keluarga.
Responden menganggap schizophrenia sebagai manusia normal seperti umumnya orang dan tidak berlebihan menganggapnya sebagai penderita yang benar-benar harus dijauhi dan dikucilkan. Mereka juga berkesempatan untuk dapat hidup normal dan kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat luas dalam mencapai orientasi hidupnya.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa yang memiliki keluarga schizophrenia bisa menerima keadaaan saudara mereka di dalam keluarga hal itu karena keluarga memberikan support, memberikan kasih sayang, memberikan rasa aman, dan memperlakukan schizophrenia seperti yang lainnya tetapi sesuai dengan keterbatasannya.
Serta seluruh keluarga memberi dukungan yang baik, agar schizophrenia merasakan adanya rasa kehangatan didalam keluarga, serta tidak adanya penolakan.  Semua yang dibutuhkan oleh schizophrenia dipenuhi oleh keluarga, baik materi, pengobatan ataupun yang lainnya.
Saran
1.      Bagi keluarga dan schizophrenia
Dengan hasil penelitian ini diharapkan para keluarga dapat memahami tugas dan fungsinya serta bagaimana memahami, merawat dan menjaga schizophrenia selain itu, para keluarga bersedia menerima segala sesuatunya apa yang sedang dialami oleh schizophrenia serta bagaimana kondisi kesehatan schizophrenia dapat dipertahankan.
2.      Bagi masyarakat
Agar masyarakat memberikan dukungan kepada penderita schizophrenia supaya mereka bisa bersosialisasi dengan baik dan dapat membantu meringakan bebanya dan juga supaya masyarakat tidak memberikan status gila untuk schizophrenia yang bisa memperparah keadaan penderita karena merasa dikucilkan.
3.      Bagi Peneliti selanjutnya
Sebagai bahan rujukan untuk peneliti selanjutnya untuk lebih luas dalam mengali informasi tentang schizophrenia. Karena masih banyak sekali kelemahan dalam penelitian ini, diantaranya karena kurang spesifiknya data yang diperoleh, masih minimnya informasi yang di dapat di dalam penelitian serta kurangnya pengetahuan peneliti.

Friday, September 7, 2012

FRIENDSHIP


Friendship like a violin; the music may stop now and then, but the strings will last forever.

Ada tiga hal dalam kehidupan, yang jika dirusak sulit untuk diperbaiki: penghormatan, kepercayaan dan persahabatan. Seorang teman yang mengerti air mata mu jauh lebih berharga daripada seratus teman yang hanya mempercayai senyum mu..... 

Bahagia itu sederhana....
Kita dapat bahagia ketika kita melihat sahabat kita tersenyum disaat kita sedih :)

You'll always be my best friend, You know too much....
Friend never make assumption about you. They never expect a reason to go out with you. In fact friend only expect you to be you... "Chandru Sockalingam"


like a star shining bright

Semoga persahabatan yang kita jalin selama ini akan selalu tetap berwarna seperti mejikubiniu.


love to 
Sango, Itachi, Luna, and Usagi.
<3 



^_^

"C"
----

Tuesday, October 4, 2011

Asma / Asthma



 


Asma adalah keadaan saluran napas yang mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara. Serangan asma terjadi secara berkala, kadang hampir setiap hari, kadang beberapa minggu, atau beberapa bulan.  Serangan paling sering terjadi di pagi hari. Ketika terjadi serangan asma, saluran udara pada paru-paru menyempit, sehingga sangat sulit untuk bernapas dan tersengal-sengal. Penyempitan dapat dipicu oleh infeksi virus, zat-zat alergen, polusi, asap, olahraga, kedinginan, dan kondisi emosional. Biasanya penderita asma membutuhkan waktu yang lama untuk mengeluarkan napas, dan suara seperti bersiul.

1.      Ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab asma, yaitu:
  • Bila asma disebabkan oleh alergen , maka sel-sel pada saluran pernapasan menjadi sangat sensitif terhadap satu atau beberapa zat tertentu (seperti serbuk sari, jamur, bulu binatang, kecoa, udara, asap rokok, makanan dan minuman, dsb).
  • Infeksi pernapasan berupa bronkitis akut juga dapat membuat sistem pernapasan mudah terserang asma.
  • Kecemasan, ketegangan yang disebabkan oleh rasa frustasi, kemarahan, depresi, dan antisipasi kenikmatan yang menyenangkan merupakan contoh-contoh faktor psikologis yang dapat mengganggu sistem pernapasan dan menimbulkan serangan asma.
  • Faktor keturunan, jika seorang ibu atau ayah menderita penyakit asma, maka kemungkinan besar adanya penderita asma dalam anggota keluarga tersebut.

2.      Adapun tanda dan gejala penyakit asma diantaranya:
  • Pernapasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama saat mengeluarkan napas (exhalation). Tidak semua penderita asma memiliki pernapasan yang berbunyi, dan tidak semua orang yang napasnya terdegar wheezing adalah penderita asma.
  • Adanya sesak napas sebagai akibat penyempitan saluran bronki (bronchiale).
  • Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau cuaca dingin.
  • Adanya keluhan penderita yang merasakan dada sempit..
  • Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita tidak dapat berbicara karena kesulitannya dalam mengatur pernapasan.
  • Pada usia anak-anak, gejala awal dapat berupa rasa gatal dirongga dada atau leher. Selama serangan asma, rasa kecemasan yang berlebihan dari penderita dapat memperburuk keadaanya. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.

3.      Penanganan dan Pengobatan Penyakit Asma:
  • Prinsip dasar penanganan serangan asma adalah dengan pemberian obat-obatan baik suntikan (Hydrocortisone), syrup ventolin (Salbutamol) atau nebulizer (gas salbutamol) untuk membantu melonggarkan saluran pernafasan. 
  • Pada kasus-kasus yang ringan dimana dirasakan adanya keluhan yang mengarah pada gejala serangan asma atau untuk mencegah terjadinya serangan lanjutan, maka tim kesehatan atau dokter akan memberikan obat tablet seperti Aminophylin dan Prednisolone. 
  • Bagi penderita asma, disarankan kepada mereka untuk menyediakan/ menyimpan obat hirup (Ventolin Inhaler) dimanapun mereka berada yang dapat membantu melonggarkan saluran pernafasan dikala serangan terjadi.

(sumber : psikologi abnormal edisi 9, wikipedia, google)

Thursday, August 18, 2011

Günce Yorgancılar - seni seviyorum...



Sunday, July 17, 2011

Bruno Mars - The Lazy Song [Official Video]



who am I ???



Saturday, January 8, 2011

Street Dance 3D - Club Battle - HD



Thursday, January 6, 2011

George Sampson Dancing on StreetDance 3D #2



Thursday, December 9, 2010

MotoGP: Dani Pedrosa vs Marc Márquez



Wednesday, November 24, 2010

Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar)

DAFTAR ISI

I. Pendahuluan

Latar Belakang ……………………………………………….......... 1

II. Pembahasan ……………………………………………………......... 3

A. Definisi Kesulitan Belajar (Learning Disabilities) ………. …. 3

B. Klasifikasi Kesulitan Belajar ……………………………….... . 4

C. Identifikasi LD ………………………………………….... 5

D. Penyebab Masalah ………………………………………….... 7

E. Penyelesaian Masalah ………………………………………. 8

III. Simpulan ………………………………………………………... 12

Daftar Pustaka




I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap individu adalah pribadi yang unik, memiliki kelebihan ataupun kekurangan serta kebutuhan yang berbeda –beda. Begitu pula dengan anak yang berkebutuhan khusus.

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan (fisik, mental-intelektual, sosial, emosional) dalam proses perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan tertentu, tetapi kelainan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.

Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, salah satunya yaitu kesulitan belajar atau Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar). Gangguan kesulitan belajar (learning disabilities/ LD) merupakan salah satu
permasalahan yang banyak ditemui dalam dunia pendidikan. LD menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas.

Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.

Menurut Hallahan et al (dalam Abdurahman, M, 1999) jumlah anak berkesulitan belajar meningkat secara dramatis. Hallahan dan Kauffman (1988) mengungkapkan bahwa prevalensi LD sangatlah bervariasi, dari 1% hingga 30%. Secara umum, prevalensi kesulitan belajar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Prevalensi anak kesulitan belajar pada sekolah umum di Amerika Serikat pada tahun 1976-1977 sebesar 1,8 % (Lyon, dkk., 2001). Hallahan dan Kauffman (1988) mengemukakan bahwa menurut US Department of Education, 4,73% populasi usia sekolah mengalami kesulitan belajar pada tahun 1985-1986. Lyon, dkk. (2001) menyebutkan bahwa pada tahun 1997-1998, prevalensi kesulitan belajar mencapai 5,2%. Hal ini setara dengan yang dikemukakan oleh Graziano (2002) bahwa pada tahun 1996 diperkirakan 5-6% anak sekolah usia 6 hingga 18 tahun di Amerika Serikat mengalami kesulitan belajar.

Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dari 3.215 murid kelas satu hingga kelas enam SD di DKI Jakarta, terdapat 16,52% siswa yang dinyatakan sebagai murid berkesulitan belajar oleh guru (Abdurrahman, M, 1999). Penelitian sebelumnya oleh Balitbang Dikbud dengan menggunakan instrumen khusus dalam peneitian di empat provinsi pada 1996 dan dilaporkan 1997, menemukan bahwa terdapat sekitar 10 % anak mengalami kesulitan belajar menulis, 9 % mengalami kesulitan belajar membaca, dan lebih dari 8 % mengalami kesulitan berhitung. Di samping itu, diketahui pula bahwa 22 % anak berkesulitan belajar mempunyai intelegensi tinggi, 25 % sedang dan 52 % kurang.

Dari pemaparan di atas jelas terlihat bahwa LD merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siswa, dengan prevalensi yang cenderung meningkat. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya kemampuan siswa dalam menguasai tujuan belajar yang harus dicapainya, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajarnya. Sebagai akibatnya adalah adanya kendala dalam kelancaran proses belajar. Banyak siswa yang mengulang disebabkan karena mereka mengalami LD secara akademis.


II. PEMBAHASAN

· Definisi Kesulitan Belajar atau Learning Disabilities (LD)

Untuk mengembangkan pemahaman terhadap LD, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai LD, yaitu:

Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problem belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi. (USOE; United States Office of Education, 1977).

Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu (misalnya gangguan sensoris, tunagrahita, hambatan sosial dan emosional) atau berbagai pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat, faktor-faktor psikogenik), berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung. (NJCLD; National Joint Committee on Learning Disabilities, 1981).

Dari dua pendapat tersebut, memiliki beberapa persamaan yang berkenaan dengan:

a) Kemungkinan adanya disfungsi neurologis

b) Adanya kesulitan dalam tugas-tugas akademik

c) Adanya kesenjangan antara prestasi dengan potensi

d) Adanya pengeluaran dari sebab-sebab lain;

1. LD tidak termasuk & disebabkan oleh MR (keterbelakangan mental, tunarungu, tunanetra,dsb)

2. LD tidak dikategorikan & disebabkan oleh faktor-faktor yg berasal dari luar diri individu.

· Klasifikasi Kesulitan Belajar

LD diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

Ø Kesulitan belajar pra-akademik (perkembangan)

Kesulitan belajar pra-akademik / perkembangan (developmental

learning disabilities), berkenaan dengan;

1) Kesulitan dalam berbahasa; Gangguan bahasa reseptif dan gangguan bahasa ekspresif.

2) Kesulitan dalam berperilaku sosial & emosional; Kesulitan dalam memahami konsep diri, labilitas emosional, kekurangan dlm keterampilan sosial, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan gangguan aktivitas motorik. Gangguan perseptual; Gangguan perseptual visual, gangguan perseptual auditoris, dan gangguan perseptual visual-motor, taktial, dan kinetetik.

3) Kesulitan belajar kognitif; Gangguan penggunaan operasi mental melalui ingatan, gangguan dalam melihat hubungan-hubungan, gangguan dalam membuat generalisasi, gangguan asosiasi, dan gangguan berpikir konseptual.

· Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities)

1) Kesulitan belajar membaca; Kesulitan belajar membaca permulaan dan kesulitan belajar membaca pemahaman.

2) Kesulitan belajar menulis; Kesulitan belajar menulis dengan tangan, kesulitan belajar mengeja, dan kesulitan belajar komposisi.

3) Kesulitan belajar matematika; Kesulitan belajar konsep matematika dan kesulitan belajar komputasi matematika.

  • Identifikasi LD
  • PADA USIA PRA-SEKOLAH

1. Terlambat bicara dibanding dengan anak seusianya

2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata

3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)

4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan

5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari

6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat

7. Sering gelisah yang berlebihan

8. Mudah terganggu konsentrasinya

9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya

10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya

11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu

12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar

· PADA USIA SEKOLAH

1. Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)

2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.

3. Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya

4. Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya

5. Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya

6. Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)

7. Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)

8. Sulit berkonsentrasi

9. Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah

10. Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)

11. Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya

12. Menolak bersekolah

13. Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis

14. Kacau dalam memahami hari dan waktu

· PADA USIA REMAJA/DEWASA

1. Sulit / salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa

2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis

3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya

4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan

5. Daya ingatnya terbatas

6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak

7. Lamban dalam bekerja

8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci

9. Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi


· Penyebab Masalah

Faktor keturunan

Di Swedia, Hallgren (1950) melakukan penelitian dengan objek keluarga dan menemukan rata-rata anggota keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Kesimpulannya, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan. Ahli lainnya, Hermann (1959), mempelajari dan membandingkan anak-anak kembar yang berasal dari satu sel telur. Ia memperoleh kesimpulan bahwa anak kembar dari satu sel itu lebih mempunyai kesamaan dalam hal kesulitan membaca daripada anak kembar dari dua sel telur.

Fungsi otak kurang normal

Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami masalah pada saraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit. Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak yang lamban belajar dengan anak yang abnormal. Hanya saja, anak yang lamban belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh sebab itu, para ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli saraf membuktikan masalah ini. Mereka menyebutnya sebagai "disfungsi otak" ketimbang "cedera otak". Sebenarnya, sangatlah sulit untuk memastikan bahwa keadaan itu disebabkan oleh cedera otak.

Masalah organisasi berpikir

Anak yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tentang dunia luas. Mereka tidak mampu berpikir secara normal. Misalnya, anak yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang, dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya.


Kekurangan gizi

Berdasarkan penelitian terhadap anak dan binatang, ditarik suatu kesimpulan bahwa ada kaitan yang erat antara kelambanan belajar dengan kekurangan gizi. Walau pendapat tersebut tidak seluruhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan bila pada awal pertumbuhan seorang anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu akan memengaruhi perkembangan saraf utamanya, dan tentunya membawa dampak yang kurang baik dalam proses belajar.

Faktor lingkungan

Pengaruh lingkungan, gangguan nalar, dan emosi, ketiganya mempunyai ciri khas yang sama, yaitu dapat mengakibatkan kesulitan belajar. Yang dimaksud dengan faktor lingkungan ialah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat mengganggu perkembangan mental anak, misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, dan lain-lain. Gangguan tersebut mungkin berupa kepedihan hati, tekanan keluarga, dan kesalahan dalam menangani anak. Meskipun faktor ini dapat memengaruhi, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya hambatan. Yang pasti, faktor tersebut bisa mengganggu ingatan dan daya konsentrasinya. Dan dari pengalaman dapat dipetik pelajaran bahwa lingkungan yang tidak menguntungkan sedikit banyak bisa memengaruhi kecepatan belajar.

· Penyelesaian Masalah

  1. Pemeliharaan sejak dini

Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama mundurnya daya ingat dalam berpikir, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan belajar.

  1. Pengembangan secara keseluruhan

Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan apatis. Pengalaman dalam pelbagai hal akan membuat anak mengembangkan kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang sehat.

  1. Lembaga pendidikan khusus atau umum

Suatu penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah dalam upaya untuk menolong, anak yang lamban belajar sebaiknya bergabung dalam lembaga pendidikan khusus atau lembaga pendidikan umum. Hasilnya, tidak diperoleh suatu kepastian karena adanya perbedaan pendapat. Kesimpulannya, dari segi nalar tidak ditemukan adanya peningkatan ketika anak berada di lembaga pendidikan khusus. Hasil belajarnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bergabung di lembaga pendidikan umum. Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang lamban belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal.

  1. Memberikan pelajaran tambahan

Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer. Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri. B.F. Skinner mengatakan bahwa penggunaan mesin mengajar akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dewasa ini komputer telah menjadi alat pendidikan yang populer. Gereja atau sekolah dapat menggunakannya untuk mendidik anak yang lamban belajar.

  1. Latihan indra

Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan indra kepada mereka.

    1. Latihan indra

Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, atau perabaan. Misalnya, mengenal benda melalui perbedaan bentuk atau suara. Dengan mata tertutup anak diajak untuk mengenal bentuk, kasar, atau halus suatu benda. Semua latihan tersebut dapat mempertajam indra anak.

    1. Latihan koordinasi

Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai, meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya. Latihan tersebut kemudian disatukan dengan gerakan dalam kehidupan sehari-hari seperti: memakai atau menanggalkan sepatu, menyikat gigi, menyisir rambut, menuang air, dan sebagainya.

    1. Latihan konsentrasi

Melalui latihan ini anak dilatih untuk memerhatikan rangsangan-rangsangan yang ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu, atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.

    1. Latihan keseimbangan

Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan titian, senam irama, dan sebagainya.

6. Prinsip belajar

Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar.

    1. Usahakan agar anak lebih banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang berulang-ulang.
    2. Dorong anak untuk mencari tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian, anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
    3. Beri dukungan moril atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Kadang-kadang berilah hadiah kepada anak.
    4. Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak mengalami kegagalan.
    5. Lakukan latihan secara sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
    6. Boleh memberikan pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.
    7. Jangan merencanakan pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.
    8. Gunakan teknik bahasa yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.
    9. Lingkungan belajar yang sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.

  1. Dukungan orang tua

Dorongan dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar anak yang lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orang tua bekerja sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, ibu boleh meminta izin untuk mengamati proses belajar mengajar di sekolah. Ikutilah seminar-seminar mengenai anak yang lamban belajar untuk menambah wawasan.



III. KESIMPULAN

  • Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan (fisik, mental-intelektual, sosial, emosional) dalam proses perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

salah satunya yaitu kesulitan belajar atau Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar).

  • Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.

  • LD diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

Ø Kesulitan belajar pra-akademik (perkembangan)

Ø Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities)

  • Identifikasi LD

Ø PADA USIA PRA-SEKOLAH

Ø PADA USIA SEKOLAH

Ø PADA USIA REMAJA/DEWASA


· Penyebab Masalah

ü Faktor keturunan

ü Fungsi otak kurang normal

ü Masalah organisasi berpikir

ü Kekurangan gizi

ü Faktor lingkungan

· Penyelesaian Masalah

Ø Pemeliharaan sejak dini

Ø Pengembangan secara keseluruhan

Ø Lembaga pendidikan khusus atau umum

Ø Memberikan pelajaran tambahan

Ø Latihan indra

Ø Prinsip belajar

Ø Dukungan orang tua



DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja
Rosda Karya

Daniel P. Halahan & James M. Kaufman, Exceptional Children - 9th Edition, Massachuset: Allyn & Bacon, 1994

Janet Lerner, Learning Disabilities - 9th Edition, Boston: Houghton Mifflin Company,, 2000

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Depdikbud RI, 2003

Sunardi, dkk, Menangani Kesulitan Belajar Membaca, Jakarta: Depdikbud RI, 1997

http://specialneedskid.wordpress.com/2008/09/11/mengenal-anak-berkesulitan-belajar/