Wednesday, November 24, 2010

Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar)

DAFTAR ISI

I. Pendahuluan

Latar Belakang ……………………………………………….......... 1

II. Pembahasan ……………………………………………………......... 3

A. Definisi Kesulitan Belajar (Learning Disabilities) ………. …. 3

B. Klasifikasi Kesulitan Belajar ……………………………….... . 4

C. Identifikasi LD ………………………………………….... 5

D. Penyebab Masalah ………………………………………….... 7

E. Penyelesaian Masalah ………………………………………. 8

III. Simpulan ………………………………………………………... 12

Daftar Pustaka




I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap individu adalah pribadi yang unik, memiliki kelebihan ataupun kekurangan serta kebutuhan yang berbeda –beda. Begitu pula dengan anak yang berkebutuhan khusus.

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan (fisik, mental-intelektual, sosial, emosional) dalam proses perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan tertentu, tetapi kelainan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.

Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, salah satunya yaitu kesulitan belajar atau Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar). Gangguan kesulitan belajar (learning disabilities/ LD) merupakan salah satu
permasalahan yang banyak ditemui dalam dunia pendidikan. LD menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas.

Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.

Menurut Hallahan et al (dalam Abdurahman, M, 1999) jumlah anak berkesulitan belajar meningkat secara dramatis. Hallahan dan Kauffman (1988) mengungkapkan bahwa prevalensi LD sangatlah bervariasi, dari 1% hingga 30%. Secara umum, prevalensi kesulitan belajar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Prevalensi anak kesulitan belajar pada sekolah umum di Amerika Serikat pada tahun 1976-1977 sebesar 1,8 % (Lyon, dkk., 2001). Hallahan dan Kauffman (1988) mengemukakan bahwa menurut US Department of Education, 4,73% populasi usia sekolah mengalami kesulitan belajar pada tahun 1985-1986. Lyon, dkk. (2001) menyebutkan bahwa pada tahun 1997-1998, prevalensi kesulitan belajar mencapai 5,2%. Hal ini setara dengan yang dikemukakan oleh Graziano (2002) bahwa pada tahun 1996 diperkirakan 5-6% anak sekolah usia 6 hingga 18 tahun di Amerika Serikat mengalami kesulitan belajar.

Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dari 3.215 murid kelas satu hingga kelas enam SD di DKI Jakarta, terdapat 16,52% siswa yang dinyatakan sebagai murid berkesulitan belajar oleh guru (Abdurrahman, M, 1999). Penelitian sebelumnya oleh Balitbang Dikbud dengan menggunakan instrumen khusus dalam peneitian di empat provinsi pada 1996 dan dilaporkan 1997, menemukan bahwa terdapat sekitar 10 % anak mengalami kesulitan belajar menulis, 9 % mengalami kesulitan belajar membaca, dan lebih dari 8 % mengalami kesulitan berhitung. Di samping itu, diketahui pula bahwa 22 % anak berkesulitan belajar mempunyai intelegensi tinggi, 25 % sedang dan 52 % kurang.

Dari pemaparan di atas jelas terlihat bahwa LD merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siswa, dengan prevalensi yang cenderung meningkat. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya kemampuan siswa dalam menguasai tujuan belajar yang harus dicapainya, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajarnya. Sebagai akibatnya adalah adanya kendala dalam kelancaran proses belajar. Banyak siswa yang mengulang disebabkan karena mereka mengalami LD secara akademis.


II. PEMBAHASAN

· Definisi Kesulitan Belajar atau Learning Disabilities (LD)

Untuk mengembangkan pemahaman terhadap LD, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai LD, yaitu:

Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problem belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi. (USOE; United States Office of Education, 1977).

Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu (misalnya gangguan sensoris, tunagrahita, hambatan sosial dan emosional) atau berbagai pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat, faktor-faktor psikogenik), berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung. (NJCLD; National Joint Committee on Learning Disabilities, 1981).

Dari dua pendapat tersebut, memiliki beberapa persamaan yang berkenaan dengan:

a) Kemungkinan adanya disfungsi neurologis

b) Adanya kesulitan dalam tugas-tugas akademik

c) Adanya kesenjangan antara prestasi dengan potensi

d) Adanya pengeluaran dari sebab-sebab lain;

1. LD tidak termasuk & disebabkan oleh MR (keterbelakangan mental, tunarungu, tunanetra,dsb)

2. LD tidak dikategorikan & disebabkan oleh faktor-faktor yg berasal dari luar diri individu.

· Klasifikasi Kesulitan Belajar

LD diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

Ø Kesulitan belajar pra-akademik (perkembangan)

Kesulitan belajar pra-akademik / perkembangan (developmental

learning disabilities), berkenaan dengan;

1) Kesulitan dalam berbahasa; Gangguan bahasa reseptif dan gangguan bahasa ekspresif.

2) Kesulitan dalam berperilaku sosial & emosional; Kesulitan dalam memahami konsep diri, labilitas emosional, kekurangan dlm keterampilan sosial, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan gangguan aktivitas motorik. Gangguan perseptual; Gangguan perseptual visual, gangguan perseptual auditoris, dan gangguan perseptual visual-motor, taktial, dan kinetetik.

3) Kesulitan belajar kognitif; Gangguan penggunaan operasi mental melalui ingatan, gangguan dalam melihat hubungan-hubungan, gangguan dalam membuat generalisasi, gangguan asosiasi, dan gangguan berpikir konseptual.

· Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities)

1) Kesulitan belajar membaca; Kesulitan belajar membaca permulaan dan kesulitan belajar membaca pemahaman.

2) Kesulitan belajar menulis; Kesulitan belajar menulis dengan tangan, kesulitan belajar mengeja, dan kesulitan belajar komposisi.

3) Kesulitan belajar matematika; Kesulitan belajar konsep matematika dan kesulitan belajar komputasi matematika.

  • Identifikasi LD
  • PADA USIA PRA-SEKOLAH

1. Terlambat bicara dibanding dengan anak seusianya

2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata

3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)

4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan

5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari

6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat

7. Sering gelisah yang berlebihan

8. Mudah terganggu konsentrasinya

9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya

10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya

11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu

12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar

· PADA USIA SEKOLAH

1. Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)

2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.

3. Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya

4. Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya

5. Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya

6. Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)

7. Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)

8. Sulit berkonsentrasi

9. Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah

10. Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)

11. Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya

12. Menolak bersekolah

13. Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis

14. Kacau dalam memahami hari dan waktu

· PADA USIA REMAJA/DEWASA

1. Sulit / salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa

2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis

3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya

4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan

5. Daya ingatnya terbatas

6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak

7. Lamban dalam bekerja

8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci

9. Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi


· Penyebab Masalah

Faktor keturunan

Di Swedia, Hallgren (1950) melakukan penelitian dengan objek keluarga dan menemukan rata-rata anggota keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Kesimpulannya, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan. Ahli lainnya, Hermann (1959), mempelajari dan membandingkan anak-anak kembar yang berasal dari satu sel telur. Ia memperoleh kesimpulan bahwa anak kembar dari satu sel itu lebih mempunyai kesamaan dalam hal kesulitan membaca daripada anak kembar dari dua sel telur.

Fungsi otak kurang normal

Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami masalah pada saraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit. Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak yang lamban belajar dengan anak yang abnormal. Hanya saja, anak yang lamban belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh sebab itu, para ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli saraf membuktikan masalah ini. Mereka menyebutnya sebagai "disfungsi otak" ketimbang "cedera otak". Sebenarnya, sangatlah sulit untuk memastikan bahwa keadaan itu disebabkan oleh cedera otak.

Masalah organisasi berpikir

Anak yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tentang dunia luas. Mereka tidak mampu berpikir secara normal. Misalnya, anak yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang, dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya.


Kekurangan gizi

Berdasarkan penelitian terhadap anak dan binatang, ditarik suatu kesimpulan bahwa ada kaitan yang erat antara kelambanan belajar dengan kekurangan gizi. Walau pendapat tersebut tidak seluruhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan bila pada awal pertumbuhan seorang anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu akan memengaruhi perkembangan saraf utamanya, dan tentunya membawa dampak yang kurang baik dalam proses belajar.

Faktor lingkungan

Pengaruh lingkungan, gangguan nalar, dan emosi, ketiganya mempunyai ciri khas yang sama, yaitu dapat mengakibatkan kesulitan belajar. Yang dimaksud dengan faktor lingkungan ialah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat mengganggu perkembangan mental anak, misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, dan lain-lain. Gangguan tersebut mungkin berupa kepedihan hati, tekanan keluarga, dan kesalahan dalam menangani anak. Meskipun faktor ini dapat memengaruhi, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya hambatan. Yang pasti, faktor tersebut bisa mengganggu ingatan dan daya konsentrasinya. Dan dari pengalaman dapat dipetik pelajaran bahwa lingkungan yang tidak menguntungkan sedikit banyak bisa memengaruhi kecepatan belajar.

· Penyelesaian Masalah

  1. Pemeliharaan sejak dini

Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama mundurnya daya ingat dalam berpikir, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan belajar.

  1. Pengembangan secara keseluruhan

Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan apatis. Pengalaman dalam pelbagai hal akan membuat anak mengembangkan kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang sehat.

  1. Lembaga pendidikan khusus atau umum

Suatu penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah dalam upaya untuk menolong, anak yang lamban belajar sebaiknya bergabung dalam lembaga pendidikan khusus atau lembaga pendidikan umum. Hasilnya, tidak diperoleh suatu kepastian karena adanya perbedaan pendapat. Kesimpulannya, dari segi nalar tidak ditemukan adanya peningkatan ketika anak berada di lembaga pendidikan khusus. Hasil belajarnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bergabung di lembaga pendidikan umum. Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang lamban belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal.

  1. Memberikan pelajaran tambahan

Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer. Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri. B.F. Skinner mengatakan bahwa penggunaan mesin mengajar akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dewasa ini komputer telah menjadi alat pendidikan yang populer. Gereja atau sekolah dapat menggunakannya untuk mendidik anak yang lamban belajar.

  1. Latihan indra

Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan indra kepada mereka.

    1. Latihan indra

Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, atau perabaan. Misalnya, mengenal benda melalui perbedaan bentuk atau suara. Dengan mata tertutup anak diajak untuk mengenal bentuk, kasar, atau halus suatu benda. Semua latihan tersebut dapat mempertajam indra anak.

    1. Latihan koordinasi

Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai, meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya. Latihan tersebut kemudian disatukan dengan gerakan dalam kehidupan sehari-hari seperti: memakai atau menanggalkan sepatu, menyikat gigi, menyisir rambut, menuang air, dan sebagainya.

    1. Latihan konsentrasi

Melalui latihan ini anak dilatih untuk memerhatikan rangsangan-rangsangan yang ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu, atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.

    1. Latihan keseimbangan

Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan titian, senam irama, dan sebagainya.

6. Prinsip belajar

Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar.

    1. Usahakan agar anak lebih banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang berulang-ulang.
    2. Dorong anak untuk mencari tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian, anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
    3. Beri dukungan moril atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Kadang-kadang berilah hadiah kepada anak.
    4. Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak mengalami kegagalan.
    5. Lakukan latihan secara sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
    6. Boleh memberikan pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.
    7. Jangan merencanakan pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.
    8. Gunakan teknik bahasa yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.
    9. Lingkungan belajar yang sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.

  1. Dukungan orang tua

Dorongan dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar anak yang lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orang tua bekerja sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, ibu boleh meminta izin untuk mengamati proses belajar mengajar di sekolah. Ikutilah seminar-seminar mengenai anak yang lamban belajar untuk menambah wawasan.



III. KESIMPULAN

  • Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan (fisik, mental-intelektual, sosial, emosional) dalam proses perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

salah satunya yaitu kesulitan belajar atau Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar).

  • Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.

  • LD diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

Ø Kesulitan belajar pra-akademik (perkembangan)

Ø Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities)

  • Identifikasi LD

Ø PADA USIA PRA-SEKOLAH

Ø PADA USIA SEKOLAH

Ø PADA USIA REMAJA/DEWASA


· Penyebab Masalah

ü Faktor keturunan

ü Fungsi otak kurang normal

ü Masalah organisasi berpikir

ü Kekurangan gizi

ü Faktor lingkungan

· Penyelesaian Masalah

Ø Pemeliharaan sejak dini

Ø Pengembangan secara keseluruhan

Ø Lembaga pendidikan khusus atau umum

Ø Memberikan pelajaran tambahan

Ø Latihan indra

Ø Prinsip belajar

Ø Dukungan orang tua



DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja
Rosda Karya

Daniel P. Halahan & James M. Kaufman, Exceptional Children - 9th Edition, Massachuset: Allyn & Bacon, 1994

Janet Lerner, Learning Disabilities - 9th Edition, Boston: Houghton Mifflin Company,, 2000

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Depdikbud RI, 2003

Sunardi, dkk, Menangani Kesulitan Belajar Membaca, Jakarta: Depdikbud RI, 1997

http://specialneedskid.wordpress.com/2008/09/11/mengenal-anak-berkesulitan-belajar/

Hubungan Antara Agama dan Tingkat Kepercayaan Diri

Percaya diri adalah salah satu aspek psikis manusia yang sangat penting untuk dipupuk dan dikembangkan. Sukses tidaknya seseorang dalam berinteraksi secara sosial terhadap lingkungannya adalah tergantung bagaimana cara mereka mengembangkan kepercayaan dirinya. Seseorang bisa suskes dalam bergaul dengan orang lain, mudah memperoleh teman, sukses dalam pekerjaan dan sebagainya adalah karena kepercayaan diri yang dimilikinya. Tumbuhnya percaya diri menyebabkan seseorang melakukan penyesuaian diri yang baik pula terhadap lingkungannya.

Hambly (1995:1) beranggapan bahwa bila seseorang mampu meningkatkan kepercayaan dirinya, maka hubungannya dengan orang lain akan menjadi lebih baik, pekerjaan menjadi lebih mudah dan hidup menjadi lebih memuaskan. David Staat dalam A Dictionary of Human Behavior, mendefinisikan self confidence adalah penuh percaya diri, tampil beda dan yakin pada diri sendiri. Pendapat David ini dapat dilihat kesamaannya dengan pendapat Adler yang ditulis dalam bukunya yang berjudul The Dynamis of Human Communication, bahwa salah satu unsur dari rasa percaya diri adalah menghargai diri sendiri, kemudian tumbuhnya keyakinan serta kepercayaan bahwa ia memiliki kelebihan yang, mungkin tidak dimiliki orang lain (Richard & Rychman, 1995:106).

Faktor umum yang mempengaruhi tingkat percaya diri seseorang antara lain :

1. Kondisi fisik

2. Latar belakang keluarga

3. Lingkungan dan pergaulan

4. Tingkat pendidikan dan prestasi

5. Materi

6. Kedudukan

7. Pengalaman dan wawasan

Semakin banyak dan baik kualitas faktor-faktor tersebut dimiliki, maka secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk rasa percaya diri yang semakin tebal pada diri seseorang. Tinggi rendahnya percaya diri ini bersifat sangat relatif sehingga dikatakan tidak dapat diukur secara tepat sekali . Tetapi secara umum tingkat kepercayaan diri seseorang dapat dikategorikan dalam dua tingkatan kondisi penilaian umum, yang biasanya adalah perbandingan antara pandangan realita umum dengan pandangan subjective seseorang terhadap tingkat kemampuan untuk mencapai harapannya, yaitu :

· Optimis
Kondisi percaya diri yang relatif tinggi, bersandar pada keyakinan bahwa keadaan lingkungan dan kemampuan diri yang masih dalam ambang batas kendali dan pengaruh untuk mencapai harapannya. Orang yang optimis adalah orang yang mempunyai pandangan kedepan yang positif sehingga biasanya mampu untuk mempertahankan asumsinya bahwa selalu ada jalan keluar (pemecahan) positif pada setiap permasalahan yang ada. Optimisme yang dimiliki seseorang inilah yang selalu menjadi pemicu semangat hidup yang aktif, dinamis serta keberanian dan kemandirian baik untuk maju maupun bertahan.

· Pesimis
Adalah keadaan yang sebaliknya dari optimis, yaitu dimana kondisi percaya diri relatif rendah yang biasanya karena akumulasi tekanan lingkungan dan kondisi persaingan yang keras, yang selalu menghalangi seseorang untuk mencapai harapan yang ada, sehingga mengikis bahkan mengubur kepercayaan dan semangat diri yang ada. Orang yang pesimis biasanya pasif, tidak bersemangat, ragu-ragu, dan cenderung tergantung pada orang lain.

· Sikap Sportif

Yaitu mengekspresikan suatu kekuatan dan semangat keuletan untuk maju yang positif. Jujur dan adil, kerendahan hati, keterbukaan, lapang dada, serta rasa kebersamaan / persahabatan.

Selain itu faktor yang menyebabkan seseorang bisa memiliki rasa percaya diri, adalah dengan memiliki penampilan fisik yang menarik, menjadi dambaan setiap orang. Bagi individu yang mempunyai bentuk dari penampilan fisik yang ideal akan terlihat lebih menarik bila dibandingkan dengan individu yang mempunyai penampilan fisik yang kurang menguntungkan. Individu yang memiliki penampilan yang menarik seringkali lebih banyak menjadi pusat perhatian, oleh sebab itu tidak salah bila banyak orang berpendapat bahwa penampilan merupakan salah satu modal percaya diri. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Siaran (2002:2), berkerjasama dengan Rumah Sakit ULM menyimpulkan bahwa ternyata anak-anak yang mempunyai penampilan fisik yang kurang menarik seperti kelebihan berat badan memiliki percaya diri yang rendah. Centi (1993:36) menjelaskan bahwa orang yang puas dengan keadaan dan penampilan fisiknya, pada umumnya memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi daripada yang tidak, karena penampilan fisik merupakan hal yang paling tampak dari kepribadian seseorang dan menciptakan kesan awal bagi orang lain. Kenyataannya tidak semua orang memiliki bentuk dan penampilan fisik yang menarik. Bagi mereka yang memiliki cacat fisik, percaya diri yang tinggi sangat penting bagi mereka. Sebab, jika tidak memiliki kepercayaan diri karena kekurangan yang dimilikinya, maka dapat menyebabkan mereka merasa takut, putus asa, pemalu, murung, tidak bebas, dan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi (Abd. Azis, dalam Kumara, 988:12).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Marfiyanti (2001:58), manyimpulkan bahwa semakin tinggi rasa percaya diri maka semakin tinggi pula efektivitas komunikasi individu. Penelitian dengan subyek sebanyak 40 orang dengan pendidikan SMU hingga S1 ini diketahui ternyata faktor percaya pada kemampuan pribadi merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap rasa percaya diri dibanding faktor lainnya. Hal ini disebabkan karena sesorang yang percaya kepada kemampuan yang dimilikinya atau dengan kata lain memiliki keyakinan yang positif akan lebih percaya diri, sehingga akan mempunyai keberanian untuk berkomunikasi. Berdasarkan banyak kasus yang terjadi dalam masyarakat, pada umumnya percaya diri yang dialami mereka terjadi karena masalah yang berhubungan dengan ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri. Mereka merasa bahwa fisik yang ideal dan sempurna akan menjadikan mereka sangat percaya diri dihadapan teman-temannya.

Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri dan pencapaian kestabilan mental yang sehat guna mengatasi permasalahan dalam dirinya. Dan salah satu aspek penting yang bisa mendorong rasa percaya diri adalah dengan bersyukur. Dengan bersyukur, seorang remaja akan memiliki kekuatan jiwa dan dalam menghadapi kesukaran dan kekecewaan hidup tidak akan memukul jiwanya, tidak akan membuatnya pesimis, rendah diri, mudah putus asa dalam hidupnya. Ia akan menghadapinya dengan tenang dan selalu ingat kepada Allah SWT, menerima kekecewaan dan kesukaran hidup dengan sabar. Menurutnya kesukaran yang dialaminya merupakan bagian dari ujian dan cobaan. Serta yakin bahwa Allah SWT memberi cobaan sesuai dengan batas kemampuan manusia yang akan memberikan makna pada setiap sikap dan perilaku individu sehingga akan tetap hidup dengan penuh keyakinan dan ketenangan pada dirinya sendiri (Gymnastiar, 2003:33) .

Menurut sebuah penelitian Zainrrofikoh dan Hadjam yang dilakukan pada Mahasiswa anggota KAMMI di UGM menyimpulkan bahwa individu yang merasakan kebermaknaan hidup, dapat menumbuhkan semangat untuk menghadapi tantangan hidup, mampu menerima diri dan mensyukurinya sehingga tidak mempermasalahkan penampilan fisik dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, sebaliknya individu akan menerima kondisi itu sebagai suatu takdir dan menerima dengan sikap sabar, sehingga individu tidak merasa cemas, tetap optimis dan percaya diri. Agama juga mengajarkan hakikat kemanusiaan dimana manusia harus menyadari bahwa Allah SWT memberi yang ada dalam cirinya yang meliputi fungsi-fungsi fisiologis maupun psikisnya yang menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi.

Secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari sistem kepercayaan atau agama. Agama (dalam bahasa Inggris: Religion, yang berasal dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan"), yaitu sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dalam Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai: “sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.”

William James dalam bukunya, "Agama dan Jiwa" menulis, "Agama adalah sebuah keyakinan kepada adanya sebuah sistem yang tidak terlihat di tengah-tengah berbagai fenomena di dunia, dan langkah terbaik yang harus kita lakukan dalam menghadapi sistem ini adalah menyelaraskan diri dengannya." Selanjutnya James menulis, "Dapat dikatakan, agama memberikan kepada kita kemampuan untuk mengenali hakikat ketuhanan yang secara langsung berhubungan dengan kita. Jika kemampuan untuk memahami hakikat ini tidak ada dalam diri kita, maka segala kemampuan lain yang ada dalam diri kita sama sekali tidak ada manfaatnya."

Psikolog lain bernama Katre menyakini bahwa agama dan ketenangan jiwa memiliki kaitan yang sangat erat. Karena, agama mampu memberi pengaruh pada perasaan kepemilikan dan keterikatan yang dimiliki manusia, sehingga manusia mampu mengontrol kehidupannya sendiri. Dengan melakukan berbagai aktivitas keagamaan, seperti datang ke rumah ibadah. Manusia juga akan membuka lingkungan sosialnya sehingga kepribadiannya pun akan semakin berkembang. Selain itu, aturan-aturan agama juga akan memberi pengaruh pada perilaku manusia dan memberikan keselamatan jasmani, rohani, dan keseimbangan jiwa.

Agama memiliki sejumlah tradisi yang sama, namun juga ada perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya yang memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Didalam setiap agama menganut unsur keimanan yang mencakup kepercayaan kepada sifat cinta kasih dan kepemurahan dari Allah SWT, serta keyakinan akan adanya takdir. Dengan kepercayaan ini seseorang bisa menerima dan bersyukur akan setiap realitas yang telah terjadi dan tidak dapat untuk dirubah. Sikap realita merupakan kesediaan seseorang untuk bersyukur, berserah diri pada takdir atau sikap ikhlas menerima keadaan, dan sikap inilah yang kemudian dapat menumbuhkan rasa percaya diri di dalam diri seseorang.


· Pengertian Agama

Menurut Wagner (dalam Hurlock, 2004) mengemukakan banyak remaja menyelidiki agama sebagai sumber dari rangsangan emosional dan intelektual. Para pemuda ingin mempelajari agama berdasarkan pengertian intelektual dan tidak ingin menerima begitu saja. Mereka meragukan agama bukan karena ingin menjadi agnostik atau atheis, melainkan karena mereka ingin menerima sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri.

Arnold Toymbe (dalam Junus, 2007) menyatakan bahwa tendensi agama merupakan sebagian tabiat manusia. Seorang manusia tidak sanggup hidup tanpa menganut agama dalam bentuk apapun. Agama telah mengajar manusia bahwa dirinya bukan saja makhluk bermasyarakat akan tetapi juga makhluk yang mempunyai rasa, cipta, karya dan kehormatan.

Menurut Allport (dalam Rachmat, 1944) ciri-ciri orang yang telah memiliki kepribadian yang matang yakni : terbuka pada semua fakta, pengalaman, nilai-nilai serta memberi arah pada kerangka hidup, baik secara teoritis maupun secara praktis. Maksud terbuka disini adalah terbuka untuk berubah, fleksibel, dan toleran.

Schuster & Ashbum (1980) bahwa orang yang berkepribadian matang akan terbuka pada proses hidup yang sedang dijalaninya. Salah satu bentuk dari kematangan mental adalah kematangan beragama.

Allport (dalam Rahmat, 1994) memperkenalkan konsep kematangan beragama yang diartikan sebagai sentiment keberagaman yang terbentuk melalui pengalaman untuk merespon objek-objek konseptual dan prinsip-prinsip yang dianggap penting dan menetap dalam kehidupan yaitu agama dan dilakukan secara sadar dalam bentuk kebiasaan tertentu.

Allport (dalam Rahmat, 1994) mengemukakan bahwa kematangan beragama seseorang harus diukur dengan a comprehensive commitment ( keterlibatan secara menyeluruh dalam seluruh ajaran agama yang diamati seseorang.

· Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri merupakan suatu pengetahuan yang terdapat di dalam jiwa seseorang. Dengan kata lain kepercayaan diri adalah keyakinan ataupun kemampuan terhadap diri sendiri untuk mencapai suatu keberhasilan. Rahmat (1994) mengatakan bahwa kepercayaan diri adalah suatu keinginan untuk membuka diri terhadap lingkungan karena adanya dorongan dari dalam dirinya sendiri.

Harry Stack Sulliran (1953) (dalam Rahmat, 1994) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan cenderung tidak menyenangi diri kita.

Kepercayaan diri itu sendiri adalah kepercayaan yang berasal dari orang lain yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian orang tersebut. Seseorang yang mendapat kepercayaan diri dari orang lain merasa dirinya dihargai, dihormati, dan merasa orang lain tersebut bertingkah laku secara bertanggung jawab (Karsono, 1985).

Menurut Soedirman (1986), percaya diri sendiri merupakan suatu perasaan akan kemampuan bertindak dengan bekal yang ada pada dirinya sendiri. Efek bertindak positif dari sikap percaya diri tidak akan dilipui rasa was-was, minder, akan tetapi selalu optimis dalam menyelesaikan segala tugas dan kewajiban.

Menurut Lauster (dalam Fasikhah, 1994), terdapat beberapa karakteristik untuk menilai kepercayaan diri individu, diantara­nya:

a) Percaya kepada ke­mampuan sendiri, yaitu suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi yang ber­hubungan de­ngan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi fenomena yang terjadi tersebut.

b) Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, yaitu dapat ber­tindak dalam meng­ambil keputusan ter­hadap apa yang dilakukan se­cara mandiri tan­pa adanya keterlibatan orang lain. Se­lain itu, mempunyai kemampuan untuk me­­yakini tindakan yang diambilnya ter­sebut.

c) Memiliki konsep diri yang positif, yaitu adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pan­dangan maupun tindakan yang dilaku­kan yang menim­bulkan rasa positif terhadap diri sendiri.

d) Berani mengungkapkan pendapat, yaitu ada­nya suatu sikap untuk mampu meng­utarakan sesuatu dalam diri yang ingin diung­kap­kan kepada orang lain tanpa adanya paksaan atau hal yang dapat menghambat pengungkapan pera­saan ter­sebut.

Bandura (Dr. Albert Bandura, 1994), menjelaskan bahwa self-efficacy atau kepercayaan diri yang bagus punya kontribusi besar terhadap motivasi seseorang. Ini mencakup antara lain: bagaimana seseorang merumukan tujuan atau target untuk dirinya, sejauh mana orang memperjuangkan target itu, sekuat apa orang itu mampu mengatasi masalah yang muncul, dan setangguh apa orang itu bisa menghadapi kegagalannya.




DAFTAR PUSTAKA

  1. Abbas, Z, A. (1984). Perkembangana Pikiran terhadap Agama. Jakarta: Pustaka Al Husna
  1. Hurlock. Psikologi Perkembangan, Jakarta : Penerbit Erlangga
  1. id.wikipedia.org/wiki/Budaya
  1. Jalaluddin. (1977). Psikologi Agama. Jakarta: PT. Rajja Grafindo Persada
  1. Junus, H, I. Pendidikan Agama Islam.
  1. Metia, Cut. (2009). Psikologi kepribadian. Bandung: Citra Pustaka Media Perintis
  1. Rahmat (1994). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya
  1. skripsipsikologi-indonesia.blogspot.com/.../hubungan-antara-rasa-syukur-dengan-kepercayaan-diri-html/
  1. www.indonesia.siutao.com

Friday, November 19, 2010

lagu mandarin



Monday, August 16, 2010

Enrique Iglesias ft. Pitbull - I Like It (Music Video)